Bicara Soal Pendidikan

28 06 2007

Di Angkat dari sebuah Karya:

[Soe_Hok_Gie] Re: Surat seorang Mahasiswa UI (yang miskin) untuk rektornya (UI loh Bukan UII)

bicara soal pendidikan. sy ingat ma satu entry catatan harian SHG
kalo ga salah Gie nulis gini ” ….apakah yang lebih tidak adil,
selain mendidik sebagian kecil anak-anak orang kaya dan membiarkan
sebagian besar rakyat miskin tetap bodoh. kalau perlu turunkan sedikit
mutu pendidikan yang penting pendidikan merata untuk semua
golongan…. ” kalo ga salah lagi, waktu itu gie mendebat pendapat
seorang pakar, sy lupa siapa, yang mangatakan bahwa peningkatan biaya
pendidikan adalah sesuatu yang mutlak untuk meningkatkan mutu
pendidikan.jadi masalah pendidikan di Indonesia ini emang dari zaman
66 sampe sekarang masih berkutat pada hal-hal yang sama saja.

kalau saya mah sepakat ma GIE. lebih baik bodoh rame-rame daripada
memunculkan sekelompok elit yang cerdas. syukur kalo kelompok elitnya
mikirin rakyat. kalo cuman jadi penindas baru yang menjadikan rakyat
kebanyakan sebagai santapan lezat ketidakadilan dan
kesewenang-wenangan….gawat bin kiamat namanya. “animal farm – nya
George Orwell” mungkin bisa jadi bacaan yang tepat untuk menggambarkan
kondisi ketidakmerataan pendidikan yang dikhawatirkan GIE.

dalam kamus sy ga ada lagi d konsep pemerataan berdasarkan trickle
down effect ( kesejahteraan yang menetes ke bawah ). Mencoba mendidik
sekelompok kecil anak2 orang kaya agar menjadi cerdas dengan harapan
kecerdasan mereka bisa memberikan kesejahteraan bagi rakyat kebanyakan
bull shit bgt..!!!

Pernah di suatu sesi wawancara “untuk pemberitaan majalah kampus”
saya bertanya pada PR IV (bidang humas dan kerjasama Universitas) ttg
alasan pengadaan jalur masuk kemitraan (jalur masuk PT yang secara
teori merupakan hasil kerjasama dengan pemda , namun kenyataannya
banyak peserta yang membayar bantuan yang nominalnya hingga 45 jt
secara pribadi bukan dari pemda)
Waktu itu PR IV berkata :
” bantuan itu nantinya menjadi subsidi silang untuk pembiayaan
pendidikan mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu. subsidi
pendidikan dari pemerintah mana cukup untuk menutupi biaya pendidikan
setiap mahasiswa setiap tahunnya, makanya kami melakukan berbagai
upaya termasuk pengadaan jalur kemitraan untuk menutupi biaya tersebut”

wal hasil di kampuz ku kini banyak anak orang gede yang masuk lewat
jalur tol tersebut, ujian untuk mereka diadakan hanya sbg formalitas
belaka. jadi Biar ga kompeten asal punya duit bisa saja kuliah di PTN.
uhg..!!!!

Bukannya anti orang kaya sih, cuman keberadaaan mereka di kampus bukan
lagi karena mereka memang punya kapasitas untuk menjadi mahasiswa.
keberadaan mereka bukan lagi karena brain tapi money. ujung2nya kampus
bukan lagi menjadi ajang untuk tawuran otak tapi jadi tawuran life
style mulai dari mobil, hp, dlll. hal ini pastinya memberikan efek ga
cuman ke suasana kampus yang tiba2 seperti mall dan tempat ngeceng,
tapi juga perdampak pada kawan2 yang berasal dari keluarga yang
pas-pasan. Mana ga ngaruh kalo teman lab-nya qta pada sepakat makan
siang di KFC padahal uang kiriman dari kampung cuman 500 rb. mana ga
minder kalo teman kelompok qta mau menghub-i trus qta-nya cuman bisa
ngasih no telpon rumah. yah jawaban “hari gini ga ada HP, gimana bisa
maju mba’,bli dong biar komunikasi kelompoknya bs lancar. ga usah yang
lagi in-modelnya yang harganya cmn 400 -an juga gpp ?. uhg…jangankan
bli HP, uang makan saja susah, mesti ngatur sedemikian rupa biar bisa
ckp u/bli buku or fotocopy …..he,3x. jadinya kita ga cuman mikirin
kuliah tapi gimana cara bergaul dan bersosialisasi biar komunikasi
dengan teman-teman kuliah enak. kalo orangnya muka tembok kayak sy sih
ga masalah tapi kalo kawan2 yang tiap hari nonton sinteron “inikah
rasanya ?” puyeng d. jadinya mahasiswa bukan mikirin kuliah lagi tapi
bagaimana bisa di terima di lingkungan pergaulan kawan2 kampuz supaya
bisa belajar bareng. memilih belajar sendiri juga ga ada salahnya sih
tapi dikhwatirkan qta bakal anti sosial he..3x

trus pimpinan universitas juga….koq mikir subsidi silang-nya githu.
coba kalo memilih mendesak pemerintah untuk meningkatkan subsidi
pendidikan dari hasil pajak barang-barang mewah yang di pake orang
kaya. emang lagi-lagi subsidi silangnya dari orang kaya tapi khan
efeknya lebih bagus, tidak memberatkan rakyat miskin kayak saya.
(he…3x dah miskin egois lagi…tp gpp yach dari pada kaya truss
egois..) Hasil pajak barang mewah itu mending dituntut untuk subsidi
pendidikan dari pada digunakan untuk pembiayaan militer. syukur kalo
uangnya untuk bli buku bacaan para tentara dan polisi, kalo cuman
u/bli senjata..duh ampun (semboyan ” rajin baca jadi pintar, malas
baca jadi polisi”..bisa2 jadi kenyataan….he3x)

pimpinan universitas qta itu emang mesti di demo sering2 biar sadar
kalo telinga dan matanya tuh ada dua. trus juga punya mulut satu.
menyadarkan kalo mereka itu bukan budak pemerintah yang kalo
pemerintah bilang A ia juga harus bilang A dan melaksanakan A, kalo
pemerintah bilang Subsidi pendidikan dicabut maka universitas nurut
dan sepakat saja dan berupaya sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri
agar “siap” saat subsidi dicabut.
mestinya mereka sadar bahwa mereka tidak hanya punya satu pilihan
yaitu hanya menjadi anak manis dimata pemerintah tapi mereka juga
punya pilihan sebagai anak arif di mata rakyat. anak yang berani
bilang TIDAK saat pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak bijak
bagi rakyat kebanyakan. anak yang berani menuntut hak rakyat akan
pendidikan untuk semua golongan.

” berjuang tak selamanya dengan turun ke jalan , tapi bila turun ke
jalan sudah menjadi sebuah keharusan maka tak ada kata- kata lagi
selain, mari merapatkan barisan kawan ! “


Aksi

Information

One response

28 06 2007
nanadips

yup…saya setuju dengan tulisan anda yg “bahwa kampus bukanlah tempat untuk adu otak lagi tetapi buat adu life style..tapi syukurnya saya tidak temukan hal itu di area kampus saya.tapi saya menilai dari keadaan perguruan-perguruan tinggi di sekitar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: