Ekonomi cukup

20 10 2007

Ekonomi cukup
timbangan.gif Prinsip ”hidup yang cukup” adalah landasan bagi sebuah ”ekonomi cukup”, di mana manusia tidak lagi mengeksploitasi diri (nafsu)-nya sendiri, juga lingkungan hidup bsekitarnya.

Ia mengeksplorasi potensi terbaiknya untuk memenuhi keperluan manusia, sebatas Tuhan–yang mereka percaya—menganjurkan atau membatasinya.Bagaimana ”cukup” itu didefinisi atau dibatasi, tak ada–bahkan tak perlu—ukuran dan standar. Seorang pengusaha dan profesional dapat mengukurnya sendiri dengan jujur: batas ”cukup” bagi dirinya. Jika bagi dia dengan keluarga beranak dua, pembantu dua, tukang kebun, satpam atau lainnya, merasa cukup dengan sebuah rumah indah, dua kendaraan kelas menengah, mengapa ia harus meraih lebih? Mengapa ia harus melipatgandakannya?

Apalagi jika usaha tersebut harus melanggar prinsip hidup, nilai agama, tradisi dan hal-hal lain yang semula ia junjung tinggi? Andaikan,sesungguhnya ia mampu menghasilkan puluhan miliar tabungan, sekian rumah mewah peristirahatan bahkan jet pribadi, dapat dipastikan hal itu hanya akan menjadi beban. Bukan melulu saat ia berupaya meraih,tetapi juga saat mempertahankannya.

Bila pengusaha tersebut berhasil men- ”cukup”-kan dirinya, secara langsung ia telah mengikhlaskan kekayaan lebih yang tidak diperolehnya (walau ia mampu) untuk menjadi rezeki orang lain. Ini sudah sebuah tindak sosial. Dan tindak tersebut akan bernilai lebih jika ”kemampuan lebihnya” itu ia daya gunakan untuk membantu usaha atau sukses orang lain.

Sambil menularkan prinsip ”ekonomi cukup”, ia akan merasakan ”sukses” atau kemenangan hidup yang bernuansa lain jika ia berhasil membantu sukses lain orang dan tak memungut serupiah pun uang jasa.

Maka, secara langsung satu proses pemerataan demi kesejahteraan bersama pun telah berlangsung. Palung atau sen- jang kekayaan pun menipis.Kesempatan meraih hidup yang baik dapat dirasakan semua pihak.Pemerintah dapat bekerja lebih efektif tanpa gangguan-gangguan luar biasa dari konflik-konflik yang muncul akibat ketidakadilan ekonomi.

Dan seorang pejabat, hingga presiden sekalipun, dapat pula mendefinisikan ”cukup” baginya: jika seluruh kebutuhan hidupku, hingga biaya listrik, gaji pembantu hingga pesiar telah ditanggung negara, buat apalagi gaji besar kuminta? Moralitas seperti ini adalah sebuah revolusi.Dan revolusi membutuhkan keberanian, kekuatan hati serta perjuangan
tak henti.

Maka, ”cukuplah cukup”. Kita sederhanakan sebagai prinsip hidup/ekonomi yang ”sederhana”. Kian sederhana, maka kian cukup kian sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul saya: semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita sehari-hari,makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita.

Jika Anda mampu membeli Ferrari, mengapa tak mengonsumsi Mercedes seri E saja, atau Camry lebih baik, atau Kijang pun juga bisa. Dan dana lebih, bisa Anda gunakan untuk tindak-tindak sosial, untuk membuat harta Anda bersih, aman, dan hidup pun nyaman penuh senyuman.

Beranikah Anda? Berani kita? Tak usah berlebih, kita cukupkan saja.


Aksi

Information

2 responses

20 10 2007
Yari NK

Yah, itulah kalau kehidupan hanya diukur berdasarkan ‘sukses’ materi saja, ya kalau misalnya untuk memanjakan kerakusannya bermewah2 didapat dengan prestasi kerja, kalau untuk itu harus mencari jalan yang tidak halal?? Wah itu sih kasihan banget…..mau kaya tapi berprofesi sebagai maling terselubung!.
Terkadanag, di sebuah masyarakat yang sudah maju, sukses bukan hanya dilihat dari sudut materi saja, tapi juga bisa diukur dari prestasi. Seperti contoh: seseorang yang berhasil mendapatkan emas olimpiade di bidang olahraga, atau seseorang yang berhasil meraih hadiah pulitzer di bidang jurnalistik, prestasi seperti itu tidak bisa dan tidak akan pernah bisa dihitung dengan sebuah Mercedes apalagi sebuah Camry! Kenapa? Ya, logikanya simpel saja, dengan prestasi tinggi mungkin dengan ‘kemasyuran’ anda tersebut, anda dapat membeli sebuah Camry atau Mercedes. Sedangkan jikalau anda diberi hadiah Camry atau Mercedes, belum tentu anda dapat berprestasi!😛
So, jadinya banggalah berprestasi dulu baru bangga dengan materi yang anda punya! Dengan begitu insha Allah, materipun dapat dicari dengan lebih mudah dan lebih halal.😛
Well, money is not always the driving force in our life!😉

26 10 2007
benbego

Betul tuh mas wahyu, cukup aja. Duit cukup 1juta dollar, istri cukup satu, di jakarta satu dan dibogor satu. Mobil cukup satu. pokoknya semua dicukup2in deh. beres kan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: